Idul Qurban: Kemurnian Tauhid dan Kesalehan Sosial

Standar

Oleh:  Ustadz Abdul Mutaqin , Ketua PCM Depok Barat

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحَّدَنَا بِعِيْدِهِ كَأُمَّةٍ وَاحِدَةٍ، مِنْ غَيْرِ الأُمَم، وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ. أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ، اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ. الَلَّهُمَّ صَلِّ وَاُسَلِّمُ عَلَى حَبِيْبِناَ المُصْطَفَى، الَّذِّي بَلَّغَ الرِّسَالَةْ، وَأَدَّى الأَمَانَةْ، وَنَصَحَ الأُمَّةْ، مُحَمَّدٍ  وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ، وَجاَهَدَ فِيْ اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ.

الله أكبر  الله أكبر.

اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْراً وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَإلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ، اللهُ اَكْبَرُ وِللهِ الْحَمْدُ.

اَمَّا بَعْدُ: عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ!

الله أكبر  الله أكبر وِللهِ الْحَمْدُ

Bersyukur kita kepada Allah atas kemurahan-Nya, yang memperkenankan kita berjama’ah di tanah lapang ini untuk syiar Islam, izzul Islam wal muslimin. Semoga Allah menetapkan iman dan Islam kita sampai akhir zaman. Kepada Rasulullah kita bersholawat, semoga Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada beliau, ahlul baitnya dan para pecinta sunnahnya.

Pagi ini kita bersimpuh di hadapan Allah, mengumandangkan takbir, tahmid, tahlil dan menegakkan solat sebagai komitmen kepada syari’at. Lalu berqurban, sebagai rasa syukur dan komitmen kepada tauhid serta ihsan kepada sesama. Kita serahkan semua yang telah kita tegakkan itu, biarlah Allah yang membalasnya karena Dialah Pemberi Balasan Yang terbaik.

Hadirin Sidang Ied yang berbahagia.

Idul Adha sangat dekat dengan berqurban, karena itu disebut pula Idul Qurban. Berqurban, di samping merupakan syari’at para Nabi, ia juga merupakan tradisi manusia sejak zaman dulu. Manusia telah mempraktekkannya sebagai warisan dari generasi ke generasi. Hanya saja, tradisi berqurban mereka bukan untuk taqarrub kepada Allah.

Tradisi qurban yang mereka lakukan umumnya untuk memohon keselamatan dari penyakit, lepas dari bencana, membuang sial atau agar terlepas dari berbagai kutukan. Untuk itu, dialirkanlah darah hewan atau bahkan manusia, lalu dipersembahkan kepada gunung, sungai, laut, tempat keramat, kuburan, pohon besar atau tempat-tempat yang diyakini sebagai wilayah kekuasaan para dewa dan penguasa alam gaib.

Qurban jahiliyah seperti ini, sering disebut sebagai sesaji, tumbal, ancak dan sejenisnya. Dalam pelaksanaannya menggunakan jasa perantara yang disebut dengan orang pintar, dukun, pawang atau pemangku adat yang mengambil tempat tidak lebih sebagai calo-calo alam ghaib.

Masyarakat Arab sebelum Islam pun melakukan tradisi berqurban seperti ini. Dengan persangkaan cerdiknya, mereka membagi-bagi daging persembahan itu separuh untuk Allah, separuhnya lagi untuk berhala-berhala mereka, dan separuhnya lagi untuk mereka nikmati bersama. Seolah-olah mereka memahami betul kebutuhan tuhan mereka atas daging yang dipersembahkan itu. Al-Qur’an kemudian mengkritik tradisi berqurban itu dalam firman-Nya :

وَجَعَلُواْ لِلّهِ مِمِّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُواْ هَذَا لِلّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَآئِنَا فَمَا كَانَ لِشُرَكَآئِهِمْ فَلاَ يَصِلُ إِلَى اللّهِ وَمَا كَانَ لِلّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَآئِهِمْ سَاء مَا يَحْكُمُونَ ﴿١٣٦﴾

“Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bahagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: “Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”, Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka” (QS. Al-An’am [6] : 136)

Karenanya menjadi sangat lucu, jika sampai hari ini masih ada orang Islam memendam kepala kerbau saat membangun jembatan, gedung atau proyek-proyek pembangunan, sebagai maksud meminta izin kepada penguasa tanah itu dengan harapan ia tidak meminta korban dalam proses pembangunannya.

Para pemendam kepala kerbau itu berkelit jika dikatakan bahwa mereka telah terjebak pada perbuatan syirik. Mereka membantah dan berdalih, bahwa yang tengah mereka kerjakan hanyalah sekedar melestarikan tradisi, tidak lebih. Mereka tidak bermaksud menyekutukan Allãh, hanya sekedar menghormati budaya leluhur. Tetapi, apabila ditanya melestarikan tradisi leluhur siapa? Islam atau Animisme Hindu? Mereka menjawab sekenanya, bahkan buru-buru mengalihkan masalah dengan mengatakan, “ah sudahlah, jangan diperpanjang.”

Hadirin, terhadap orang yang demikian itu, Allãh  menyindir mereka dalam firman-Nya :

ألَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُواْ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُواْ إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُواْ أَن يَكْفُرُواْ بِهِ … ﴿٦٠﴾

  “Tidakkah engkau melihat kepada orang-orang yang menyangka bahwa mereka telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan yang diturunkan sebelummu, (padahal) mereka ingin bertahkim (mengambil hukum) dari thaghut, padahal sungguh mereka telah diperintah untuk kafir kepadanya.”  (QS. An-Nisa [6]: 60)

الله أكبر  الله أكبر وِللهِ الْحَمْدُ

Hadirin Sidang Ied Rahimakumulah.

Setiap musibah yang menimpa manusia, bagi orang yang beriman dipahami sebagi kasih sayang Allah yang harus disikapi dengan sabar. Tidak ada hubungannya dengan tradisi memendam kepala kerbau atau jatah sesaji yang dilupakan. Keyakinan itu hanyalah bangunan yang didirikan di atas pondasi duga-duga dan puing-puing peradaban zaman batu yang hanya cocok untuk pikiran sederhana masyarakat primitif. Yaitu masyarakat yang selalu menerjemahkan setiap musibah dengan kurang syarat ini dan itu. Anak sakit-sakitan, katanya keberatan nama. Dagang rugi melulu, katanya letak warung salah menghadap. Pasangan pengantin yang tiba-tiba pingsan, katanya arwah ibunya sengaja datang menjenguk. Sekarang, cobalah bandingkan dengan firman Allah berikut :

وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدُيرٌ ﴿١٧﴾

 “Dan jika Allãh  menimpakan musibah atasmu maka tidak ada yang dapat menyingkapnya selain Ia, dan jika Ia memberikan kebaikan padamu maka Ia Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.”  (QS. Al-An’am [6]: 17).

Siapapun manusia tidak akan sanggup menyingkap secara pasti rahasia di balik musibah kecuali hanya Allah subhanahu wata’ala. Kita hanya diwajibkan berusaha, agar dapat terhindar dan selamat dari setiap musibah itu. Perkara kemudian mengalami atau terhindar darinya, semata-mata karena kuasa dan kasih sayang-Nya.

Jadi, tinggalkan kepercayaan model zaman batu itu. Jangan lagi jadi manusia kombinasi yang jenaka. Yakni, manusia yang hidup dengan fasilitas serba remote control, tetapi isi kepalanya masih primitif. Kemana-mana bawa handphone, tapi masih percaya kembang setaman tujuh rupa. Bekerja sudah dengan komputer, laptop atau iPad, tapi masih yakin dengan air bening tujuh sumur. Setiap hari naik turun Honda, Suzuki atau Yamaha, tapi, jimat cincin batu akik masih dipercaya mendatangkan keberuntungan.

Suatu hari Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam pernah melihat lelaki yang mengenakan jimat di tangannya, lalu beliau berkata:

اِنْزِعْهَا فَإِنَّهَا لاَ تَزِيْدُكَ إِلاَّ وَهْنًا فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا

 “Cabutlah (benda itu) karena ia hanya akan semakin membuatmu lemah/takut. Karena sesungguhnya jika engkau mati dalam keadaan memakainya maka engkau tidak akan beruntung selamanya.” (HR. Ahmad dengan sanad “la ba’sa bih”).

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam membangun ummatnya di atas kalimat Tauhid yang murni dan mulia.  Di atas landasan yang kokoh itulah beliau menegakkan da’wah, dari situlah beliau menegakkan generasi yang hanya meng-Esa-kan Allah dan membebaskan diri mereka dari cengkraman makhluq-makhluq lain yang dianggap sekutu bagi Allah. Dan ketika seorang Muwahhid mengucapkan dan melantunkan kalimat Tauhid itu, maka seharusnya ia meyakini dua hal yang menjadi tujuan hidupnya.

Pertama  menegakkan yang haq dan member-sihkan yang bathil. Sebab makna yang sesungguhnya dari kalimat la ilah Illallah adalah tidak ada yang berhak untuk disembah selain Allah. Sehingga segala sesuatu selain Allah adalah bathil dan tidak berhak mendapatkan hak-hak ilahiyyah (hak-hak untuk disembah).

Kedua  adalah untuk mengatur dan meluruskan perilaku manusia agar selalu dalam lingkaran Tauhid yang murni kepada Allah yang terpancar dari kalimat Tauhid. Agar semua tindak-tanduk manusia dilandasi oleh keyakinan bahwa Allah-lah satu-satunya Tuhan Yang Maha Kuasa.

Agar kalimat Tauhid itu dapat “berhasil guna” dalam mengatur perilaku manusia maka ada tujuh syarat yang harus dipenuhi, yaitu: pertama al-’ilm (mengetahui) maknanya yang benar, kedua al-yaqin (meyakini) kandungan-nya tanpa ada keraguan,  ketiga al-ikhlas (ikhlas) tanpa ternodai oleh syirik,  keempat ash-shidq (membenarkan) tanpa mendustakannya,  kelima al-qabul (menerimanya) dengan penuh kerelaan tanpa menolaknya,  keenam al-inqiyad, tunduk pada konsekwensi kalimat Tauhid dan semua itu harus dilandasi dengan sarat  ketujuh yaitu al-mahabbah (cinta) kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala.

Bila ketujuh syarat tersebut telah terpenuhi maka insya’ Allah seluruh ibadah dan amal kita akan selalu terhiasi dan diterangi oleh kemurnian Tauhid, sehingga semuanya dikerjakan hanya karena Allah, tidak ada lagi permintaan tolong selain kepada Allah, tidak ada lagi tawakkal kecuali kepada Allah, tidak ada lagi pengharapan dan rasa takut selain kepada Allah, tidak ada lagi kekuatan selain pertolongan Allah. Dari sinilah, seorang muwahhid akan merasakan dari lubuk hatinya yang terdalam bahwa segala sesuatu selain Allah adalah lemah dan tidak berdaya. Maka ia tidak lagi takut kebengisan dan kekuatan para makhluq, tidak lagi terpedaya oleh kilau duniawi, dan baginya tidak mungkin ada yang dapat manandingi Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apapun yang dikehendaki Allah Subhannahu wa Ta’ala

الله أكبر  الله أكبر وِللهِ الْحَمْدُ

Berqurban adalah syari’at agama Allãh, tanda ketaatan kepada tauhid, sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan bukti rasa syukur kepada Allãh atas nikmat-nikmat-Nya. Maka, mengalirkan darah hewan qurban termasuk ketaatan dengan satu bentuk taqarrub yang khusus:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ ﴿٣٤﴾

 “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allãh  terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allãh  kepada mereka, maka Ilahmu ialah Ilah Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allãh). (QS. Al-Hajj [22]:34)

Dengan demikian, berqurban berarti setia kepada Tauhid yang murni dan bersih yang merupakan misi utama para Rasul. Ia merupakan inti ajaran dari semua risalah samawiyah yang diturunkan Allãh Ta’ala. Ia adalah tiang penopang yang menegakkan bangunan Islam. Ia adalah syi’ar Islam yang terbesar sekaligus jati diri dari Islam itu sendiri. Inilah pesan utama Allãh  kepada Rasulnya yang diutus kepada ummat manusia.

ولَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ … ﴿٣٦﴾

  “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap ummat seorang rasul (untuk menyampaikan): Sembahlah (oleh kalian) akan Allãh  dan jauhilah thaghut.”  (QS. An-Nahl [16] : 36)

Bukalah kembali sirah Nabi, bagaimana Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam membersihkan Jazirah Arab dari kotoran-kotoran dan kekuasaan thoghut dan patung-patung sesembahan. Ingatlah bagaimana batu besar saat itu yang bernama Hubal yang dikelilingi 360 berhala dihancurkan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam dengan tangan beliau yang mulia pada saat fathu Makkah dengan penuh kemenangan, seraya mengulang-ulang firman Allãh :

وَقُلْ جَاء الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا ﴿٨١﴾

 “Dan Katakanlah (wahai Muhammad) telah datang Al-Haq dan hancurlah yang bathil. Sesungguhnya yang bathil itu pasti hancur.” (QS. Al-Isra’ [17] : 81)

Maka melalui mimbar ini, kami mengajak membersihkan hati kita dari debu-debu syirik. Buang jauh-jauh segala i’tiqad yang dapat memalingkan kita dari tauhid yang murni. Jangan gadaikan iman kita dengan kepercayaan jahiliyah yang menjadikan kita hina di hadapan Allah subhaanahu wa taala. Inilah pesan pertama, kita bersimpuh di sini.

الله أكبر الله أكبر وِللهِ الْحَمْدُ

Hadirin, Sidang hari raya qurban yang dirahmati Allah.

Masih ingatkah kita kisah dua orang putra Adam Qabil dan Habil yang saling berqurban di hadapan Allah? Salah seorang dari mereka diterima qurbannya, dan seorang lagi diabaikan Allah. Mengapa demikian? Mari kita telusuri dan menemukan jawaban atas pertanyaan penting ini.

Hadirin, yang pertama kali harus kita camkan, bahwa Allah sama sekali tidak membutuhkan sedikitpun dari kekayaan kita. Berapapun banyaknya harta yang sanggup dikorbankan seseorang, bukanlah satu-satunya ukuran untuk mendapat keridoan Allah. Dalam konteks berkurban, bukan seberapa ekor yang sanggup dipotong dan seberapa banyak darah yang dialirkan oleh seseorang untuk menunjukkan bahwa ia telah berkorban. Tetapi, seberapa tinggi loyalitas dan kecintaannya kepada Allah melebihi cintanya kepada hewan yang disembelih dan dialirkan darahnya itu.

Apalah artinya berlomba-lomba memotong hewan Qurban, apabila qurban pesembahannya itu tidak sanggup meruntuhkan egoisme dan kesombongan yang ada pada hati pelakunya. Inilah sesungguhnya pesan moral qurban, semakin sering seseorang berqurban, makin nampaklah kerendahan hatinya, makin santunlah ia, makin jernihlah setiap ucapan dan tindakannya.

Sungguh sayang orang yang berqurban, tapi kata-katanya masih saja pahit, kasar dan menusuk. Dadanya masih membusung, kepalanya masih saja tinggi dan angkuh. Berqurban seperti arena untuk menunjukkan seberapa besar hartanya di hadapan orang lain.  Inilah salah satu indikasi qurban yang sia-sia, seperti salah satu qurban putra nabiullah Adam alahissalam.

Apa sesungguhnya yang dikehendaki oleh Allah terhadap qurban kita?, Allah telah menyinggungnya dalam satu ayat :

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ ﴿٣٧﴾

 “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”.  (QS. Al-Hajj [22] : 37)

Kita harus bercermin pada qurban Nabiullah Ibrahim alahissalam dan putranya Ismail untuk mencopy nilai keikhlasan qurban yang paling hakiki. Kita memang tidak akan setara dengan para kekasih Allah itu, tetapi meneladaninya bukanlah hal yang mustahil.

Kita hanya diminta berqurban sebagian kecil dari harta yang kita miliki. Tidak seperti Nabi Ibrahim yang diminta menyembelih leher putranya Ismail, dan mereka berdua sanggup melaksanakannya, meskipun Allah kemudian menunjukkan kemahamurahan-Nya dengan mengganti leher Ismail dengan seekor gibas yang subur. Kita hanya diminta menyembelih egoisme dan keserakahan atas cinta yang berlebihan kepada kesenangan duniawi.

Cinta dunia boleh-boleh saja karena memang kita hidup di dalamnya. Tetapi ingat, masih ada kehidupan akhirat, puncak segala kenikmatan abadi atau kepedihan dengan azab yang pedih. Sungguh pesan moral yang sangat agung dan alangkah beruntungnya, jika kita selalu dapat mengadopsi jiwa Ibrahim dan Ismail setiap kali syiar Idul Qurban kita kumandangkan. Hadirin, ini poin kedua kita hadir di sini.

الله أكبر  الله أكبر وِللهِ الْحَمْدُ

Hadirin, Sidang hari raya qurban yang budiman.

Orang yang ikhlas berqurban, hakikatnya tidak sedang mengukir kesalehan pribadi di hadapan Allah saja, tetapi ia tengah membangun kesalehan sosial yang dirasakan manisnya oleh kaum dhuafa. Orang muslim yang kaya tidak menikmati hartanya sendirian, tetapi ia rela berbagi kepada orang miskin di sekitarnya. Islam hadir di tengah kita untuk mempersempit jurang antara miskin dan kaya, tidak untuk menempatkan si kaya pada satu kapling dan si miskin di kapling yang lain.

Ada kisah pada masa Rasulullah yang mungkin dapat memberikan illustrasi jelas pada kesempatan mulia ini. Satu saat, Rasulullah saw berkumpul bersama para sahabatnya yang kebanyakan orang miskin. Sekedar menyebut beberapa nama sahabat yang hampir semuanya bekas budak, yaitu Salman al-Farisi, Ammar bin Yasir, Bilal, dan Suhay Khabab bin Al-Arat. Pakaian mereka jubah lusuh terbuat dari bulu yang kasar. Tetapi mereka adalah sahabat senior Nabi, para perintis perjuangan Islam permulaan. Beberapa saat kemudian, serombongan bangsawan yang baru masuk Islam datang ke majelis Nabi. Ketika melihat orang-orang di sekitar Nabi, mereka mencibir dan menunjukkan kebenciannya. Mereka berkata kepada Nabi:

“Kami mengusulkan kepada Anda agar Anda menyediakan majelis khusus bagi kami. Orang-orang Arab akan mengenal kemuliaan kita. Para utusan dari berbagai kabilah Arab akan datang menemuimu. Kami malu kalau mereka melihat kami duduk dengan budak-budak ini. Apabila kami datang menemui Anda, jauhkanlah mereka dari kami. Apabila urusan kami sudah selesai, bolehlah Anda duduk bersama mereka sesuka Anda.”

Salah seorang dari bangsawan itu; Uyaynah bin Hishin menukas, “Bau Salman al-Farisi mengangguku (Ia menyindir bau jubah bulu yang dipakai sahabat nabi yang miskin). Buatlah majelis khusus bagi kami sehingga kami tidak berkumpul bersama mereka. Buat juga majelis bagi mereka sehingga mereka tidak berkumpul bersama kami.”

Peristiwa ini  disaksikan Allah dan para malaikat, maka tiba-tiba turunlah malaikat Jibril menyampaikan surat Al-An’am [6] ayat 52 .

وَلاَ تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِم مِّن شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِم مِّن شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ ﴿٥٢﴾

“Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka. Begitu pula mereka tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim.”

Nabi saw segera menyuruh kaum fuqara duduk lebih dekat lagi sehingga lutut-lutut mereka merapat dengan lutut Rasulullah saw. “Salam ‘Alaikum,” kata Nabi dengan keras, seakan-akan memberikan jawaban kepada usul para pembesar Quraisy. Setelah itu, turun lagi surat Al-Kahfi [18] ayat 28,

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا ﴿٢٨﴾

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”

Sejak itu, apabila kaum fuqara ini berkumpul bersama Nabi, beliau tidak meninggalkan tempat sebelum orang-orang miskin itu pergi. Apabila beliau masuk ke majelis, beliau memilih duduk dalam kelompok mereka.  Seringkali beliau berkata :

“Alhamdulillah, terpuji Allah yang menjadikan di antara umatku kelompok yang aku diperintahkan bersabar bersama mereka. Bersama kalianlah hidup dan matiku. Gembirakanlah kaum fuqara muslim dengan cahaya paripurna pada hari kiamat. Mereka mendahului masuk surga setengah hari sebelum orang-orang kaya, yang ukuran setengah hari di sana, adalah 500 tahun dunia. Mereka bersenang-senang di surga sementara orang-orang kaya masih sibuk tengah diperiksa amalnya.”

Hadirin jika kita ingin menjadi orang yang memiliki kesalehan individu dan kesalehan sosial secara bersamaan, maka saat ini kita sedang dinanti. Allah sedang memanggil kita untuk membuktikan bahwa diri kita bukan saja cinta kepada Allah, tetapi juga memiliki empati dan simpati pada kaum dhuafa, cinta kepada orang-orang miskin dan mengasihinya. Raba hati kita masing-masing, apakah kita lebih memilih perilaku para salafussaalih, atau lebih menyerupai pembesar quraisy seperti kisah di atas. Inilah pesan terakhir dari Idul Qurban yang saya sampaikan.  GSemoga bermanfaat.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ

Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ, وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ ,وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا, وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا, وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا, وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَا ,وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا, وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selamakami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَشْكُوْرً وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرًا

Ya Allah, jadikanlah haji mereka haji yang mabrur, sa’i yang disyukuri, dosa yang diampuni dan perniagaan yang tidak merugi

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Kreatif dan Ikhlas dalam Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Gambar
اسلام ءليكم ورحت الله وبرك ته
الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِين
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُون
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيب
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا   يُصْلِحْ لَكُمْ   أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
 فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا,    ام بعد
فان اصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه و سلم  وشر الامور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل صلالة في النار
Disampaikan oleh : Bapak H. Effendi Mukhtar, SH. MH *)
Pada Sholat Idul Fitri 1 Syawal 1433 H / 19 Agustus 2012
di Lapangan Pemuda Limo, Depok
Atas dasar sejarah hidup KH. Achmad Dahlan dari cerita-cerita yang didapatkan dari para sesepuh Muhammadiyah seperti dari Alm. KH. Mukhtar, KH. Sudjak, KH. Wasol Dja`far, KH. Raden Hajid, KH. Ahmad Badawi ,KH. Aslam Zaenuddin, KH. Dalhar BKN, Bapak H. Bajuri, KH. Bakir Saleh, Ki Bagus Hadikusumo, KH. Zaini, KH. Hasyim dan lain-lain, kita mendapatkan kesan bahwa KHA Dahlan itu hidupnya selalu penuh dengan pemikiran-pemikiran.
Pemikiran-pemikiran Alm.KHA Dahlan pada umumnya diarahkan :
1.      Apakah hidup kita ini sudah tepat menurut maksud yang menghidupkan
QS. Adz-Dzariyat :56
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya :
Dan tidaklah Kami ciptakan Jin dan Manusia, kecuali untuk menyembah kepadaKu
Bahwa tujuan manusia itu diciptakan hanya untuk mengabdi / beribadah  kepada Allah SWT, oleh karena itu, hanya ada dua posisi kita hidup di dunia ini, kalau tidak sedang mengabdi/beribadah  kepada Allah,  pastilah kita sedang bermaksiat kepada Allah
Dari ayat di atas, terlihat bahwa tujuan Allah menciptakan kita  tiada lain hanyalah  untuk beribadah kepadaNya. Kalau  hidup kita tidak digunakan sebagaimana yang dikehendaki Allah, maka tubuh  kita akan rusak . Sebagai ilustrasi dapat diberikan contoh, mikropon ini gunanya adalah untuk berbicara, apabila kita gunakan untuk selain berbicara, contohnya untuk memukul, maka ia akan rusak walaupun bentuknya seperti pemukul. Begitu juga apabila hidup kita ini digunakan tidak untuk beribadah, maka ia akan rusak.
 Ibadah dalam hal ini tidaklah dimaksudkan ibadah mahdah semata, artinya  apapun yang kita lakukan dalam  segala aktifitas kita di dunia ini, seperti bekerja di kantor, petani bekerja di sawah, ibu yang memasakkan makanan untuk suami, anak  dan keluarganya, asalkan diniatkan untuk mencari ridho Allah, maka itu akan dipandang sebagai suatu ibadah, sebaliknya walaupun yang kita lakukan adalah ibadah, akan tetapi bila dilakukan bukan karena mencari ridho Allah, maka sebenarnya kita sedang bermaksiat kepada Allah.
2.      Apakah kita hidup ini sudah berpegang teguh dengan agama Allah ? sudah benar dan sudah tepat cara melaksanakannya ?
QS. Al- Maidah :3
 الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا
Artinya :
Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah aku cukupkan nikmatKu atasmu dan telah Kuridhoi Islam sebagai agamamu
Artinya syariat Islam itu telah sempurna dan tidak perlu kepada penambahan-penambahan. Jadi jangan berpikir suatu ibadah yang diada-adakan adalah baik, atau berprasangka buruk mungkin nabi lupa mengajarkannya,  sebab haruslah diyakini kalau  itu baik,  sudah barang tentu Nabi telah sampaikan dan para sahabat salafus shalih telah terlebih dahulu mengerjakannya.
ما بقي شيء يقاربكم الى الجنة ويبا عدكم عن النار الا قد بين لكم
Artinya
 
Tidak tersisa sedikitpun apa-apa yang akan mendekatkanmu kepada syorga dan menjauhkanmu dari api neraka, kecuali telah dijelaskan kepadamu ( tidak ada yang tertinggal )
QS. Yunus : 36
وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلاَّ ظَنًّا إَنَّ الظَّنَّ لاَ يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا إِنَّ اللّهَ عَلَيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ
Artinya :
Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
Pada dasarnya segala ibadah _hukum asalnya adalah terlarang atau haram, kecuali telah diperintahkan oleh Allah dan RasulNya dan segala sesuatu urusan dunia hukumnya halal / boleh, kecuali apa-apa yang dilarang oleh Allah dan RasulNya. Sebagai kesimpulan apabila menyangkut ibadah harus menunggu perintah dan apabila menyangkut urusan dunia menunggu larangan.
Apakah kita sudah meneladani Rasulullah SAW ?
QS. Al- Ahzab : 21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya :
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
 
Hadis:
من عمل عملا ليس عليه امرنا فهو رد
      Artinya :
Barangsiapa yang beramal dengan amalan yang tidak kami perintahkan, maka amalan itu tertolak ( H.R. Bukhari, Ahmad dan Abu Daud )
 
ليس منا من عمل بسنتي غيرنا
Artinya :
Bukan dari golongan Kami yang beramal yang bukan berasal dari sunnah kami         (HR. Daylami )
Dalam sebuat Atsar  dari Sahabat Ibnu Mas`ud disebutkan :
      اقتصاد في سنة خير من اجتهاد في بدعة
Artinya :
Sederhana dalam melaksanakan sunnah, adalah lebih utama daripada bersungguh-sungguh dalam melaksanakan bid`ah,
Kebanyakan ummat Islam bersungguh-sungguh menambah-nambahkan ibadah, tetapi tidak berikhtiar menambah-nambah untuk kemajuan dunia. Dalam hal keduniawian, mereka sangat mundur, ini terbukti dengan bahwa hampir sebagian besar produk  teknologi berasal dari Negara barat ( Negara non muslim ), tetapi dalam menambah-nambah rupa ibadah, sungguh dikagumi kemajuannya.
Seseorang berbuat sesuatu yang menambah-nambah rupa ibadah tersebut, tujuannya adalah juga untuk mendekatkan diri kepada Allah, baik yang diada-adakan itu perbuatan atau perkataan, padahal sebenarnya ia telah membuat suatu aturan dalam agama tanpa ia sadari, padahal Allah dan rasulNya tidak mengizinkan hal tersebut dikerjakan, karena itu adalah hak prerogative Allah dan RasulNya. Oleh karena itulah setiap bid`ah yang menyangkut ibadah semata-mata, tidak ada yang baik  ( kullu bid`atin dhalalah / setiap yang diada-adakan itu adalah sesat ). Sehingga  ke empat ulama mahzab berkesimpulan,  bahwa sesuatu yang ditinggalkan nabi mengerjakannya, maka meninggalkan perbuatan itu, itulah yang sunnah dan mengerjakannya itulah yang bid`ah. Dari Abu Dawud dari Huzaifah ia berkata : “tiap-tiap ibadah yang tidak dilaksanakan oleh para sahabat, janganlah kamu kerjakan
 
 
3.      Selagi di dunia ini masih ada orang yang tidak melakukan ajaran agama Allah, padahal kita dapat datang kepadanya untuk mengajaknya, maka kita masih berdosa, masih bertanggungjawab kepada Allah.
 
QS : Al-Baqarah : 159-160
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَـئِكَ يَلعَنُهُمُ اللّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُون
Artinya:
 
Sesungguhnya orang yang menyembunyikan bayyinah setelah kami turunkan keterangan yang jelas dan petunjuk, setelah kami menerangkannya dalam Alkitab, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat oleh semua makhluk yang dapat melaknat.
Salah satu tugas dan amanah yang dibebankan kepada kita yaitu kita wajib menyampaikan atau memberi tahu yang benar kepada saudara kita sesuatu keterangan yang sudah nyata dari Quran dan Sunnah, apabila kita melihat saudara kita melakukan kesalahan , apalagi dalam ibadah, tetapi kalau mereka tidak mau menerima anjuran atau saran kita tersebut, kita telah terbebas dari ancaman ayat tersebut di atas yaitu tidak akan dilaknat oleh Allah dan semua makhluk yang dapat melaknat ;
4.      Beliau mempunyai pemikiran bahwa mundurnya Agama Islam Indonesia pada waktu itu, kebodohannya, kejorokannya, pecah belahnya sampai-sampai kerendahan nasibnya, terjajah oleh orang-orang Belanda yang hanya beberapa ratus orang, padahal ummat Islam Indonesia pada waktu itu sudah berpuluh-puluh juta, semuanya itu karena keislaman mereka tidak seperti yang ditunjukkan oleh Allah dan tidak seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Agama yang ditunjukkan oleh Allah langsung kepada Nabi Muhammad di kota Makah ketika pertama kali adalah murni, belum bercampur dengan pendapat, pemikiran-pemikiran yang sesat, filsafat  dan aplikasinya  dipraktikkan oleh Nabi SAW dan dilihat langsung oleh para sahabat, sehingga para sahabat dapat langsung bertanya kepada Nabi SAW apabila ada yang mau ditanyakan. Dalam Hadis sebagai contoh disebutkan : Shollu kama ro`aitumuni ushalli  ( Sholatlah kamu sebagaimana engkau melihat aku sholat ), sehingga adalah sesuatu hal yang mustahil, apabila ada sahabat yang mengerjakan suatu ibadah yang tidak dicontohkan oleh nabi. Oleh karena itulah Nabi SAW pernah bersabda bahwa generasi terbaik ialah sahabat pada generasiku dan yang sesudahnya dan yang sesudahnya, yaitu adalah para sahabat, seterusnya tabi`in dan tabi`ut tabi`in.
Sebagaimana diketahui, agama Islam datang ke Indonesia tidaklah melalui jalur dakwah langsung, tetapi dibawa oleh para saudagar Parsi dan Gujarat dan mengembangkannya di Indonesia melalui perdagangan dan kebudayaan. Sehingga adalah merupakan suatu keniscayaan, agama baru yang dibawa itu di tengah perjalanannya telah terkontaminasi dan dipengaruhi oleh beragam pemikiran, pendapat, kebiasaan dan budaya, dan filasafat  manusia dan  akhirnya sampai di Nusantara yang pada saat itu telah ada agama besar seperti Hindu dan Budha yang telah dianut oleh sebagian besar rakyat, sehingga dengan kedatangan agama baru itu, terjadilah percampuran dan tata cara beribadah yang saling mempengaruhi  dan akhirnya  secara perlahan-lahan sudah dianggap memang demikianlah tata cara beribadah agama Islam itu. Sebagai contoh masih banyak kita temui ada sebagian saudara-saudara kita ketika berdoa  harus menyertakan kemenyan sebagai syarat afdholnya berdoa dan lain sebagainya.
Oleh karena itu supaya kita mendapatkan kembali kemurnian agama Islam seperti yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW  dan yang telah dilakukan oleh para sahabat itu, haruslah dengan upaya dan usaha yang keras yaitu dengan menyaringnya dengan filter Al-Quran dan As-Sunnah shahihah, karena Nabi telah bersabda yang artinya Aku tinggalkan dua hal kepada kalian yang apabila kalian berpegang teguh dengannya, maka kalian akan selamat yaitu Al-Qur`an dan Sunnah
·    Sami`na wa atho`na
·    Sami`na wa ashoina
·    Jangan banyak bertanya kepada Allah—- akan binasa dan tidak akan bisa melaksanakan perintah Allah seperti kaumnya Nabi Isa AS
5.      Pemikiran KHA Dahlan, agama Islam yang ditunjukkan oleh Allah SWT dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW, adalah agama yang :
·    membangkitkan manusia dari  kematiannya,
·    dapat membawa manusia dari kegelapan ke alam terang benderang,
·    dapat menarik dari alam perpecahan ke arah alam persatuan dan persaudaraan. Pendek kata dengan dengan Islam yang benar dan tepat, ummat manusia dapat sampai kepada kemuliaan dan keluhuran ;
·         Husnul Khalqi
         Ingatlah Sauqi Beik seorang Penyair Mesir pernah berkata :
 “ Kejayaan suatu bangsa hanyalah karena akhlaknya, jika akhlaknya telah bobrok, maka hancurlah bangsa itu
Keikhlasan adalah puncak dari pengamalan ajaran Islam. Dari  sana amal dimulai seberapapun derita yang kita hadapi, kejernihan hati, ketulusan jiwa  dan keihlasan beramal, akan menjadi pendobrak yang luar biasa. Sebab ketulusan itu sama artinya dengan “ tidak takut siapapun kecuali kepada Allah SWT  saja “, sebaliknya sikap riya akan mengantarkan kita kepada kegagalan, bahkan kebinasaan di dunia sampai akhirat. Allah SWT telah memperingatkan hal ini dengan firmannya dalam Al-Qur“an surat Al-Anfal ayat 47 yang artinya : dan janganlah kamu seperti orang-orang yang keluar dari  kampung halamannya dengan sombong dan riya  kepada manusia,
Maka wahai para pemimpin, bersihkanlah hati dari riya dan sombong agar problema ummat ini bisa selesai.
Para pemimpin ummat harus mau duduk bersama untuk saling bermuwajahah dan bertukar fikiran, dengan begitu ikhtilaf ( perbedaan pendapat ) dapat dinormalisir dan diminimalisir sekecil mungkin dan perselisihan dapat dihindari sejak dini. Kendala yang paling berat justru dari dalam (internal ) ummat Islam sendiri, yakni kuatnya mentalitas ananiyah  ( keakuan / egoisme ) dan sohibul jaah ( keinginan berkuasa ). Kedua watak inilah yang selama ini membuat kita malas memulai mengucapkan salam, mengulurkan tangan atau berinisiatif mengunjungi sesama saudara.
Ada kesan siapa yang lebih dahulu mengucapkan salam, mengulurkan tangan atau mendatangi, berarti  lebih rendah dan lebih butuh ketimbang yang diziarahi, disapa atau dijabat. Padahal Nabi SAW jelas-jelas memerintahkan ummatnya untuk menyebarluaskan salam, menunjukkan kecintaan kepada saudaranya dan memelihara silaturrahmi
Namun keutamaan justru diperoleh oleh mereka yang memulai melakukan semua perilaku mulia tersebut.
Setelah itu harus ada kesadaran dari tiap-tiap pemimpin akan kapasitas dan kualitas dirinya. Mereka-mereka yang sudah malang melintang di jaman rezim lama tanpa bisa berbuat banyak untuk ummat, hendaknya tahu diri, apalagi kalau selama malang melintang itu merasa sudah kenyang mereguk berbagai fasilitas dan kenikmatan.  Era baru ke depan membutuhkan generasi pemimpin  baru yang bersih dari racun-racun rezim yang lama. Zaman baru membutuhkan pemimpin yang mengedepankan akhlaqul karimah, hidup bersahaja dan terbebas dari fanatisme sempit terhadap kelompok dan golongan serta mampu mengayomi semua lapisan masyarakat, bukankah Islam itu adalah rahmatan lil `alamin ?
Pemimpin pada hakikatnya adalah pelayan ummat. Sebab kepemimpinan itu adalah taklif  ( beban ) dan bukanlah tasyrif ( kemuliaan ), sehingga kalau ada kesalahan dari saudara kita yang kebetulan sedang memegang amanah, kita harus koreksi dengan santun lewat silaturrahmi, tetapi kalau ia menyalahi amanah, maka kita harus bertindak tegas
Kita percaya, masih banyak sosok di negeri ini yang memiliki kapasitas dan kualitas yang hebat / tinggi dan mumpuni, namun tidak pernah bisa muncul lantaran dominannya budaya hypokrit, menjilat dan money politic.
Kini layar keterbukaan, era reformasi dan demokrasi terbuka luas. Ini merupakan kesempatan yang baik yang kalau kita gagal meresponnya secara positif,  kita khawatir kesempatan ini adalah peluang terakhir yang kita punyai. Bukankah Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Anfal : 46 yang artinya janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar / takut dan hilang kekuatannmu
Hadis Nabi SAW : “ Siapa yang tidak peduli terhadap urusan kaum muslimin, maka ia bukan golongan kami.”
6.      Pemikiran KHA Dahlan yang antara lain didorong oleh Qur`an dan Hadis-hadis Rasulullah SAW, antara lain bacaan beliau terhadap Surat Ali Imran ayat 104 yang dengan pemikirannya yang sungguh-sungguh, timbul pemikiran beliau bahwa untuk memperjuangkan agama Islam seperti yang diyakini dan selalu dipikirkannya itu, tidak mungkin berhasil apabila tanpa adanya ummatun yang selalu  “ yad`una ilal khairi, ya`muruna bil ma`ruf wayanhauna `anil munkar “
Maka atas dasar pemikiran-pemikiran beliau itulah maka walaupun beliau sudah mengikuti Budi Utomo dengan Dr. Wahidinnya, mengikuti Syarikat Islam dengan Haji Samanhudi dan HOS Cokroaminotonya, rupanya beliau belum puas, sehingga beliau dengan bantuan murid-muridnya tetap mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah sebagai organisasi. Dan tujuan Muhammadiyah sederhana sekali ialah menyebarkan agama Islam ajaran Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Itu sudah mencakup semuanya ;
Aku titipkan Muhammadiyah ini kepadamu.
Kata-kata ini menurut almarhum KHM Yunus Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiayah Periode 1959 – 1962. Kata-kata  KHA Dahlan yang disampaikan pada waktu pertemuan para konsul Muhammadiyah di Yokyakarta ketika menunggu pulangnya Ki Bagus Hadikusumo dari Jakarta , pada saatnya Negara Republik Indonesia baru saja merdeka . Masih tahun 1945 ;
Kata-kata ini oleh bapak KHM Yunus Anis sudah dijelaskan bahwa kata   “mu “ disini tidak khusus untuk keluarga besar Muhammadiyah saja. Bahkan kepada masyarakat luas “mu” itu juga dialamatkan ;
Namun perlu dijelaskan, bahwa Muhammadiyah yang dititipkan oleh KHA Dahlan ini adalah Muhammmadiyah yang :
·   Parsyarikatan yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam, sehingga terwujud masyarakat utama yang adil makmur yang diridlai oleh Allah SWT ;
·   Parsyarikatan Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam dan dakwah amar ma`ruf nahi munkar berakidah Islam dan bersumber pada Al-Qur`an dan Sunnah, bersih aqidahnya dari syirik dan khurafat dan bersih ibadahnya dari Bidah, karena itulah tujuan Muhammadiyah yaitu memberantas TBC yaitu Takhayul, Bid`ah dan Churafat, sehingga : Muhammadiyah ( artinya Pengikut Muhammad ) adalah sungguh berbeda dengan mereka yang pura-pura beriman, munafiq dan kazzab. Mereka yang jenis ini mengaku Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul, tetapi tidak mau patuh pada ajarannya, kehidupannya sangat jauh menyimpang dari ajaran Muhammad. Mereka mengaku Islam, tetapi pakaian mereka menampakkan aurat, hiburan mereka menonton takhayul dan khurafat, ekonomi mereka bercampur riba dan politik mereka penuh kecurangan ( Intrik dan money politik ) akibatnya ada kejadian pada waktu pembacaan Visi dan Misi Calon Bupati pada suatu daerah Tk II menjadi arena caci maki dan penghinaan.
QS Al Hujuraat : 11
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman [1411] dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
 
Hadis :
Barangsiapa yang menutup aib saudaranya di atas dunia, maka Allah akan menutup aibnya di akhirat,
Semoga Allah melindungi kita dari kepura-puraan dan kemunafiqan.
Dalam penutupan Mukadimah anggaran dasarnya disebutkan :  “ Maka dengan Muhammadiyah ini, mudah-mudahan ummat Islam dapatlah diantarkan ke pintu gerbang Syurga Jannatunna`im dengan keridlaan Allah yang Rahman dan Rahim ;
Memahami uraian di atas, maka siapapun yang ingin menjadi anggota Muhammadiyah, apalagi yang ingin membantu menjadi anggota Pimpinan Muhammadiyah, lebih-lebih bagi siapapun yang berkeinginan mengembang-luaskan serta ingin melestarikan organisasi dan beramal dengan Muhammadiyah , maka untuk itu merasa harus berniat ibadah kepada Allah semata-mata.
Riwayat dari Ki Bakir Saleh, Bapak Ki bagus Hadikusuma pernah berkata kepada KH Bakir saleh dengan katanya :
“ Kir, orang di Muhammadiyah harus dengan sungguh-sungguh ikhlas karena Allah. Siapa yang tidak ikhlas, maka ia akan rugi dunia akhirat. Di dunia, Muhammadiyah tidak dapat memberi apa-apa, sedang di akhirat, tentu Allahpun tidak akan memberti apa-apa “.
Berorganisasi dengan organisasi Muhammadiyah, kita harus menyadari bahwa Muhammadiyah itu adalah sarana untuk menjunjung tinggi Agama Allah. Sarana untuk menyebarluaskan kalimah Allah.
Oleh karena itu kreatifitas dalam berorganisasi, sangat diperlukan, Organisasi kita jangan statis, jangan beku. Yang penting berhasilnya tujuan parsyarikatan.
Namun demikian segala sesuatu harus pula dengan musyawarah. Kita harus menyadari bahwa Allah masih selalu melimpahkan karuniaNya kepada Muhammadiyah karena Muhammadiyah masih selalu bermusyawarah. Dari tahun 1330 H / 1912 M Muhammadiyah tetap membiasakan bermusyawarah.
Memang musyawarah tidak 100 % positif. Namun barakah Allah banyak dikaruniakan dalam kita bermusyawarah. Dan jangan lupa, kalau kita bermusyawarah, jangan lupakan adab musyawarah. Yang penting bagi kita jangan lupa, bahwa kita bermuhammadiyah ini mencari ridla Allah SWT.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
نصر من الله
Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
للهم صل على محمد وعلى ال محمد كما صليت على ال ابراهيم انك حميد مجيد وبارك على محمد وعلى ال محمد كما باركت على ال ابراهيم انك حميد مجيد
اللهم اغفر للمسلين والمسلمات والمؤمنين و المؤمنات الاحياء منهم والاموات
رب اغفرلي ولوالدي وارحمهما كما ربياني صغيرا
اللهم اني نسالك سلامة في الدين وعافية في الجسد وزيادة في العلم وبركة قي الرزق وتوبة قبل الموت ورحمة عند الموت ومغفرة بعد الموت
اللهم هون علينا في سكرة الموت والنجاة من النار والعفو عند الحساب
رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَآ أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ  رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عبادالله
ان الله ئامر بالعدل والاحسان وايتاءزى القرب وينهون عن الفخشاء والمنكر
واسلام عليكم ورحمت الله وبركا ته
———————————————————————-

*) Hakim di Pengadilan Negeri, Bandung

Muhammadiyah tetapkan 1 Syawal Jatuh 19 Agustus 2012

Standar

Medan –  Ketua PP Muhammadiyah, Haedar Nashir (kanan) bersama Sekretaris Umum Muhammadiyah, Agung Danarto (tengah) dan Ahli Hisab Muhammadiyah, Oman Fathurohman saat menyampaikan penentuan 1 Syawal atau Hari Raya Idul Fitri di kantor pusat PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Jumat (10/8).

PP Muhammadiyah sepakat menentukan 1 Syawal 1433 jatuh pada Minggu (19/8), berdasarkan hasil Hisab Wujudul Hilal yang telah dilakukan Majelis Tarjih dan Tajdid.Yogyakarta, (Analisa).  Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1433 H jatuh pada hari Ahad Kliwon, 19 Agustus 2012. Penetapan tersebut merupakan hasil hisab wujudul hilal yang dilakukan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

“Pada tanggal 19 Agustus hari Ahad Kliwon itu kami menginstruksikan kepada warga Muhammadiyah dan mengajak umat Islam umumnya untuk menunaikan Salat Idul Fitri,” kata Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Dr H. Agung Danarto kepada wartawan di kantor, Jumat (10/8).

Agung mengatakan dasar perhitungan Muhammadiyah bahwa ijtimak jelang Syawal 1433 H terjadi pada hari Jumat Pon 17 Agustus 2012 pukul 22:55:50 WIB. Tinggi bulan pada saat terbenamnya matahari di Yogyakarta, -7 derajat 48″ = 110 derajat 21″ BT adalah -04 derajat 37″ 51″ hilal belum wujud.

“Di seluruh wilayah Indonesia pada saat terbenamnya matahari tersebut bulan berada di bawah ufuk,” kata Agung didampingi Ketua dan Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid, Prof Dr Syamsul Anwar dan Oman Fathurohman.

Syamsul menambahkan penggunaan metode hisab untuk menentukan awal bulan Kamariah terutama awal puasa, 1 Syawal dan Idul Adha merupakan salah satu wujud apresiasi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan khususnya ilmu falak dan ilmu hisab.

Hisab lebih menjamin kepastian dan akurasinya dapat dipertanggungjawabkan karena batas-batasnya dapat diketahui dengan jelas. Sedangkan rukyat tidak bisa memberi kepastian. “Untuk menentukan 1 Ramadan misalnya, harus menunggu H-1. Namun dengan hisab bisa jauh-jauh hari, 1 tahun, 10 tahun hingga 100 tahun sudah diketahui. Muhammadiyah menggunakan hisab,” kata Syamsul.

Syamsul menegaskan hisab merupakan salah satu upaya kontekstualisasi. Rukyat pada zaman Nabi Muhammad tidak ada masalah karena umat Islam hanya ada di Jazirah Arab. Namun saat ini umat Islam sudah menyebar dan mendunia.

Menurutnya dengan hisab kita bisa memperkecil perbedaan. Metode hisab untuk menentukan awal bulan kamariah ini ikut mendorong terwujudnya kalender Islam internasional. “Masalah pelaksanaan waktu puasa di Arafah yang selama ini belum dapa diatasi dapat segera terselesaikan,” katanya.

Mengenai keputusan tidak mengikuti sidang isbat saat menentukan awal puasa, dia menambahkan hal itu merupakan keputusan sidang pleno PP Muhammadiyah tahun sebelumnya. “Pertimbangannya praktis saja karena Muhammadiyah sudah bisa menentukan sebelumnya,” pungkas Syamsul diamini Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir. *** dtc-mpisu

Sumber : http://sumut.muhammadiyah.or.id/berita-1566-detail-muhammadiyah-tetapkan-1-syawal-jatuh-19-agustus-2012-.html

Mekanisme Pendaftaran dan Pencetakan Kartu Anggota

Standar

Kami mengajak Bapak dan Ibu, Kaum Muslimin, yang di rahmati Allah SWT, untuk bergabung dalam aktivitas dakwah dan kegiatan sosial keagamaan di lingkungan terdekat : Cinere, Meruyung dan Limo. Aktivitas  Persyarikatan Muhammadiyah,  yang kami laksanakan memerlukan partisipasi, dukungan dan  kontribusi pemikiran dari Bapak dan Ibu sekalian

Untuk menggalang potensi, dukungan  dan resources yang ada, sekaligus untuk membangun database keanggotan yang modern dan transparan, izinkan kami untuk menjelaskan Mekanisme Pendaftaran dan Pencetakan Kartu Anggota, sebagai berikut:

1. Form/ Blangko  Keanggotaan mohon diisi dengan lengkap, sesuai dengan pertanyaan yang ada menggunakan Tinta Hitam dan Huruf Kapital

2. Lengkapi persyaratan yang diperlukan

3. Form yang sudah lengkap, mohon dapat dikembalikan ke alamat sebagai berikut:

  • Apotik Cempaka, Jl Raya Cinere (Depan Kantor Polsek Cinere),

Kontak : Al Bachri Husin. Handphone: 081514105023  email : albhusin@centrin.net.id

  • DKM Al Furqon, Jl. Raya Meruyung (Belakang Kompleks SD Muhammadiyah 4)

Kontak : Marjuki. Handphone: 08128539084 email: pcmlimo@yahoo.com

  • DKM Al Ikhlas, Kompleks Sawo Griya Kencana, Jl. Artayasa Stable, Limo

Kontak : Syarifudin Pane. Handphone: 081586172081 email : fudin0802@yahoo.com.au

4. Form / Blangko  yang telah diisi lengkap akan kami kirimkan dan ajukan permohonan  ke Pengurus Wilayah Jawa Barat untuk Penerbitan NBM ( Nomor Buku Muhammadiyah ) dan proses pembuatan Kartu Keanggotaan

5. Kartu Anggota  yang sudah dicetak dan kami terima akan kami kirimkan ke alamat Bapak dan Ibu sesuai dengan yang tertera di Form / Blangko Pendaftaran

6. Infaq dan Biaya untuk pengurusan Kartu Anggota  (sesuai Ketentuan yang tercantum di Form / Blangko  Keanggotaan)**, Pencetakan dan Pendistribusian Kartu ke alamat masing—masing dapat di transfer ke Rekening:

Nama : Dedi Nurfalaq S. Sos

Bank Syariah Mandiri

No. Rekening : 7032415312

7.  Jika sudah melakukan transfer mohon kirim sms notifikasi/pemberitahuan  ke Nomor: 082123235583

Catatan:

#) Blangko Pendaftaran dapat diperbanyak sesuai dengan kebutuhan dan dapat di unduh disini

**) Biaya atau Ongkos Pengiriman Kartu disarankan untuk disesuaikan sendiri sesuai dengan estimasi Bapak / Ibu, belum termasuk dalam Blangko Pendaftaran

Maklumat 1 Ramadhan 1433 H

Standar

Assalamu’alaikum  Warohmatullohi Wabarokaatuh,

Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan ini mengumumkan hasil hisab Ramadhan, Syawwal, Dzulhijjah 1433 H sesuai hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah…

Selengkapnya, silahkan baca dalam tautan berikut http://www.muhammadiyah.or.id/id/ann-142-detail-maklumat-1-ramadhan-syawwal-dzulhijjah-1433h.html

Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga dapat dijadikan ilmu pengetahuan dan pedoman bagi kita semua, dalam menjalankan aktivitas Ramadhan 1433 H.

Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh,

Abdurrahman bin Auf, Pengusaha Sukses Yang Mengguncang Dunia

Standar

Siapa tak mengenal Abdurrahman bin Auf? Salah satu dari 10 sahabat yang dijamin mendapatkan surga. Bahkan semua Muslim pada masa sulit seperti sekarang tentu lebih menginginkan menjadi sepertinya dan berusaha mengikuti jejaknya sebagai kontribusi dalam Islam. Beliau pernah menyumbangkan separuh hartanya ditambah 40.000 dinar, 500 kuda dan 500 unta dalam satu waktu, dan menyumbangkan 50.000 dinar fii sabilillah ketika meninggal, dan lebih banyak lagi yang beliau sumbangkan tatkala masih hidup.

Abdurrahman bin Auf adalah ikon Muslim salih dan kaya. Kombinasi yang tampaknya sulit kita temukan pada abad-abad terakhir. Tapi sulit bukan berarti mustahil. Kita hanya perlu sedikit demi sedikit mempelajari kisahnya dan berharap bisa lebih ‘salih dan kaya’ setiap harinya.

Ketika Rasulullah memerintahkan hijrah menuju Madinah, Abdurrahman bin Auf adalah salah satu shahabat yang berhijrah tanpa harta, karena beliau lebih memilih Allah serta Rasul-Nya dibanding harta melimpah yang selama ini dia usahakan di Makkah.

Begitu sampai di Madinah, Rasulullah saw mempersaudarakan Abdurrahman bin Auf dengan saudagar paling kaya di kota itu, Sa’ad bin Rabi’. Saking bahagianya, Sa’ad bin Rabi’ yang telah mendengar kehebatan Abdurrahman dalam berdagang langsung memperlihatkan semua tokonya pada Abdurrahman, lalu meminta Abdurrahman memilih separuhnya. Tidak hanya itu, Abdurrahman bahkan diminta memilih salah satu dari istri sahabatnya Sa’ad bin Rabi’ yang paling disukainya. Subhanallah, inilah persahabatan dalam Islam.

Namun Abdurrahman menjawabnya “Semoga Allah memberkahi hartamu dan keluargamu, aku tidak memerlukan semua itu. Akan tetapi, tunjukkanlah aku dimana pasar supaya aku dapat berdagang disitu”

Sa’ad bin Rabi’ pun menunjukannya letak pasar. Dan dalam waktu dekat perniagaannya berkembang dan menikahi seorang Muslimah dengan mahar emas seberat biji kurma. Tidak hanya itu, dia menjadi orang yang paling kaya di Madinah setelahnya.

Dari sini ada beberapa pelajaran yang bisa kita tarik.

1. Abdurrahman bin Auf menunjukkan kepada kita bahwa modal harta itu penting, tapi modal mental lebih penting. Mental kaya lebih penting daripada kaya. Abdurrahman memulai dari nol dan mampu mengumpulkan kekayaan lebih banyak karena dia memiliki mental kaya. Mental kaya ini misalnya selalu mau memberi bukan menerima, siap dengan kerasnya usaha, tangguh, bersungguh-sungguh dalam usaha dan meyakini keberhasilan usahanya. Ini tergambar dari perkataannya “Seandainya aku membalik sebuah batu, maka aku akan menemukan emas atau perak”

2.  Selain mental kaya, Abdurrahman juga memahami secara mendalam seluk beluk perdagangan secara teknis. Abdurrahman tidak hanya memiliki mental saja, tapi dia juga menguasai pasar. Sesampainya di Madinah, Abdurrahman dikisahkan mendatangkan minyak samin dan keju dari wilayah lain untuk dijual di Madinah. Artinya beliau paham betul masalah supplier dan jalur distribusi, networking, marketing, dan tentunya selling.

3. Belajar dari Abdurrahman bin Auf yang lain, beliau meniatkan semua hartanya untuk diinfakkan di jalan Allah semaksimal mungkin. Pada saat perang Tabuk beliau menginfakkan 200 uqiyah emas dari hartanya ( 1 uqiyah emas = 29,75 gram emas), sehingga Umar mengkhawatirkan apakah Abdurrahman menyisakan untuk keluarganya. Saat ditanya Rasulullah perkara uang yang dia tinggalkan untuk keluarganya, beliau menjawab “Mereka kutinggalkan lebih banyak dan lebih baik daripada yang kusumbangkan.” Rasul melanjutkan pertanyaannya “Berapa?” Maka Abdurrahman menjawab: “Sebanyak rezeki, kebaikan, dan pahala yang dijanjikan Allah.”

Siapa yang membantu agama Allah, Allah akan membantunya. Siapa yang memberi pinjaman kepada Allah, akan dilipatgandakan. Begitulah Abdurrahman yang bertambah kaya karena menginfakkan hartanya fii sabilillah. Simak perkayaan Allah dalam hal ini:

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan (TQS Al-Baqarah [2]: 245)

4. Yang terakhir, Abdurrahman adalah ksatria Islam yang istimewa, dan termasuk diantara sahabat yang mampu secara maksimal berjuang dengan harta dan jiwanya. Mungkin kita mengetahui beliau senang menginfakkan hartanya di jalan Allah. Tapi sedikit yang mengetahui bahwa Abdurrahman juga maju ke medan perang. Dia tidak menganggap bahwa harta adalah pengganti dirinya untuk maju ke medan perang. Dia memperjuangkan surga Allah dengan harta dan jiwa. Dan Allah menggantinya lebih banyak lagi. Sederhananya, dia menjadikan hartanya sebagai wasilah (perantara) ibadah, bukannya sebagai tujuan

Walhasil, beginilah profil pengusaha Muslim yang layak dinanti. Yang siap mengorbankan seluruh harta dan jiwanya di jalan Allah. Mungkin sulit, tapi bukan berarti mustahil. Yang ada saat ini, orang yang memiliki harta merasa bisa mengganti maksiat mereka dengan infak harta. Atau sebaliknya, merasa perjuangannya cukup dengan jiwa saja tapi pelit mengeluarkan harta. Semoga Allah segera mengenalkan kita profil-profil Abdurrahman bin Auf pada zaman kita, sehingga kebangkitan Islam semakin dekat. Semoga.

 

Sumber:

http://pengusaharindusyariah.com/abdurrahman-bin-auf-pengusaha-sukses-yang-mengguncang-dunia/

Haedar Nashir : Tiga Hal yang Dilahirkan dari Iman

Standar

Ketua PP Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir, mengatakan iman seharusnya bisa menjaga dan mengontrol diri kita dan melahirkan amal soleh. Iman akan menjaga dan mendorong perilaku soleh. Orang beriman, katanya, akan melahirkan tiga hal. Pertama, orang beriman akan terjaga dan terawasi (muroqobah). “Inilah substansi keimanan, di mana tanpa perhatian orang lain pun kita percaya bahwa ada diri yang harus mengontrol sendiri perilaku-perilaku kita,” kata Headar.

Kedua, iman akan melahirkan muhasabah, yakni sikap instropeksi diri. Setiap kita melakukan ihtisab, berfikir cermat untuk selalu memperbaiki diri dari amalan-amalan yang tidak terpuji dan membangun kebaikan di kemudian hari. Ketiga, menurut, Haedar, iman melahirkan mujahadah. Seseorang yang memiliki iman kuat akan mengejewantahkannya dalam bentuk perilaku amal soleh, bersungguh-sungguh untuk kebaikan, bekerja keras. Iman tanpa kerja keras untuk kebaikan belum sempurna. “Janganlah kita berbuat sedikit tetapi merasa telah berbuat banyak,” pesannya.

Sebelum Haedar, pengajian juga diisi oleh Prof. Dr. Zamroni. Pengurus PP Muhammadiyah ini mengingatkan tantangan besar yang dihadapi Muhammadiyah. Ada tiga problematika yang pelik yang coba dijawab Muhammadiyah selama ini. Yakni, persoalan kebodohan, kesengsaraan dan kemiskinan, serta pertikaian.

Muhammadiyah, kata Zamroni, sejak awal menghadapi kebodohan itu dengan berperan dalam bidang pendidikan. Muhammadiyah sangat concern dengan kualitas pendidikan dan ikut andil dalam kebijakan dalam skala nasional. Misalnya, ketika reformasi pendidikan yang mengarahkan pendidikan yang demokratis, Mendiknas yang putra Muhammadiyah, Prof. Dr. Yahya A Muhaimin, melakukan reformasi itu dengan baik. Demikian pula, ketika Mendiknas Prof. HA Malik Fadjar, gagasan broard based education untuk memperluas akses pendidikan sangat dirasakan pengaruhnya bagi system pendidikan nasional. “Saat ini, manejemen pendidikan kita lemah, substansinya juga lemah. Orang sekarang bukan mencari ilmu tetapi mencari ijazah,” kritik Zamroni.

Problem keterbelakangan dan kemiskinan juga menjadi perhatian serius Muhammadiyah. Dengan mendirikan amal usaha sosial, rumah sakit, panti asuhan, pemberdayaan ekonomi, Muhammadiyah telah melakukan upaya memerangi kesengsaraan itu. Sementara, di sisi lain saat ini pembangunan mal dan pusat bisnis tumbuh terus, tetapi pemerataannya sangat memprihatinkan. “Yang kaya tetap semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin,” tukas Zamroni lagi.

Zamroni juga memprihatinkan konflik horizontal yang terus terjadi akhir-akhir ini. Bangsa kita seperti mudah sekali tersulut emosi dan selalu mengedepankan pertikaian daripada cinta kasih atau kebijaksanaan. Muhammadiyah diminta menjadi perekat umat, mengutamakan silaturahim dan memperkuat persatuan bangsa.
Rektor Muhadjir Effendy menyatakan pengajian ini menandai penutupan tahun 2011 dan menyambut tahun 2012. Dia meminta agar penguatan keimanan dan etos bekerja keras terus dipupuk oleh karyawan dan dosen UMM. Tahun depan harus lebih baik daripada tahun ini.  Rektor juga mengumumkan tunjangan “tahun baru” bagi karyawan dan dosen yang akan cair dalam waktu dekat. Sebagaimana tahun lalu, tunjangan ini merupakan “gaji ke-15”, karena tradisi UMM juga membagikan gaji ke-13 pada pertengahan tahun dan “gaji ke-14” sebagai THR bulan Syawal. “Hitung-hitung untuk tambahan liburan tahun baru dan sebagai wujud rasa syukur atas keberhasilan UMM dan kerja keras kita selama ini,” ujar rektor disambut tepuk tangan.