Qurban: Menuju Saleh Ritual dan Saleh Sosial

Standar

 أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَه‘ لاَشَرِيْكَ لَه‘عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ.

 وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ  وَرَسُوْلُهُ الْمَحْمُوْدُ الْمَحْبُوبُ.

اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَصَحْبِهِ الّذِيْنَ نَالُوْنَ غُفْرَانَ الذُنُوْبَ.

امّا بعد : فيا ايُّهَا النّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

اللهُ اكبر 9 ×  اللهُ اكبر كبيرًاوالحمدُللهِ كثيرًا وسبحان اللهِ بكرةً واصيلاً, لا اله الاّ اللهُ واللهُ اكبر, اللهُ اكبر وللهِ الحمدُ.

 Disampaikan oleh Bapak H. Tazmaluddin el Dad

Allahu Akbar,  Allah  Maha  Besar…

Maha Suci Allah …     Maha pencipta yang paling sempurna.

Maha Suci Allah …     Tuhan yang telah menata dan mengatur alam raya ini dengan   keseimbangan dan keindahan.

Maha Besar Allah … Tuhan pemilik waktu dan masa.

Maha Besar Allah … yang kehidupan manusia berada dalam genggaman-Nya.

Puji bagi Allah …       yang masih memberikan waktu kepada kita, sehingga kita masih menjadi penduduk bumi ini.

Puji bagi Allah …       yang masih memberikan kepada kita nikmat kesempatan, sehingga kita masih berjumpa dengan Hari Raya akbar Iedul Adha .. Hari Raya Qurban pada hari ini.

Syukur kami untuk-Mu yaa .. Syakuur..

Ma’asyiral muslimin Jamaah Ied Rahimakumullah

Hari ini,  segenap kaum muslimin di seantero bumi mempertingati hari Raya Akbar, Iedul Adha atau hari Raya Qurban dan Hari Raya Haji.

Shalat Iedul Adha dan ibadah qurban yang kita laksanakan pada hakikatnya merupakan syari’at Islam yang menghubungkan umat Nabi Muhammad saw. dengan umat Nabi Ibrahim as.

Ibadah qurban dan haji adalah dua rangkaian ibadah yang merupakan napak tilas perjuangan dan keteguhan Nabi Ibrahim as.  dalam melaksanakan dan mematuhi perintah Allah Swt.

Qurban bukanlah sekedar rangkaian seremonial, tetapi ibadah yang sarat dengan hikmah, nilai-nilai spiritual, sosial dan kemanusiaan. Dan hikmah tersebut dapat diraih dengan memahami secara mendalam, melakukan rekontruksi historis dan interpretasi kontekstual perjalanan hidup Nabi Ibrahim dan puteranya Isma’il as.

Di dalam Al Qur’an terdapat enam ayat yang menyebut Ibrahim sebagai seorang hamba yang hanif.

“ Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang hanif dan Muslim yang sejati, dan dia  bukan pula seorang yang   musyrik “. (Qs. Ali Imraan (3) : 67)

Secara lughowi  (bahasa), hanif  berarti lurus, murni, dan kokoh.  Seorang yang hanif adalah mereka yang lurus imannya, tidak bercampur dengan kemusyrikan dan kebatilan, serta iman itu tertanam sangat kokoh dalam hati sanubari dalam setiap gerak langkah hidupnya. Seorang yang hanif adalah mereka yang tidak pernah membantah, menawar, apalagi mengingkari perintah Allah sekalipun sangat berat melaksanakannya.

Sikap Nabi Ibrahim yang hanif  ini dapat dipahami dari dua peristiwa ;

-. Ketika dia dengan gagah berani menghancurkan berhala-berhala yang menjadi sumber kemusyrikan dan menentang Raja Namrud yang tiranik, kejam, dan sewenang-sewenang. Padahal konsekuensi dari perbuatannya itu sungguh berat,  Nabi Ibrahim di bakar hidup-hidup. Subhanallah … karena ke-hanif-annya kemudian Allah Swt menolongnya dengan merubah sunatullah api yang panas menjadi dingin ;

“ Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”. (Qs. Al Anbiyaa’ (21) : 69)

-. Kepatuhan Nabi Ibrahim ketika diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih Isma’il sebagai anak satu-satunya saat itu.

Di dalam sejarah disebutkan, Ibrahim berasal dari Babylonia, dan setelah peristiwa hukum bakar hidup-hidup oleh raja Namrud kemudian dia hijrah ke daerah Kana’an Palestina selatan. Karena wabah paceklik di Kana’an kemudian Ibrahim bersama istrinya Sarah pergi ke Mesir untuk menetap sementara waktu disana.

Bahwa setelah sekian lama menikah dengan Sarah, istrinya yang pertama, Ibrahim belum juga dikaruniai keturunan, namun dia tidak pernah berhenti memohon kepada Allah ;

Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh”. (Qs. Ash Shaffaat (37) : 100)

Karena kepribadian yang hanif dan sangat mengesankan Raja Mesir, kemudian Ibrahim dihadiahi seorang perempuan bernama Hajar untuk dijadikan istri keduanya. Dari pernikahannya inilah kemudian Ibrahim dianugerahi seorang anak laki-laki yang diberi nama Isma’il ( yang dalam bahasa Ibrani berarti “Tuhan telah mendengar”) yaitu mendengar permohonan Ibrahim yang memohon keturunan.

Ketika Isma’il tumbuh menjadi anak yang sangat menyenangkan, Allah memerintahkan kepada Ibrahim melalui mimpi yang berulang kali agar menyembelih Isma’il, anak satu-satuanya saat itu yang sangat dikasihi dan disayangi.  Subhanallah…..

“ Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Qs. 37 : 102)

Disinilah sangat nampak ke-hanif-an seorang Ibrahim, keikhlasan.. kepasrahan.. kesabaran.. dan kekuatan hatinya untuk mematuhi perintah allah yang sangat berat. Puluhan tahun menanti dan berharap keturunan, setelah mendapatkannya kemudian Allah sebagai “pemilik” anak tersebut memerintahkan untuk diqurbankan (disembelih) untuk-NYA. Sungguh ujian yang sangat berat…

Allahu Akbar Walillahil Hamd

Ketika pisau hendak dihunuskan keleher Isma’il, tiba-tiba Allah mengutus Malaikatnya ;

(102)  “ Tatkala keduanya Telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya )”.

(103)  “ Dan kami panggillah dia: “Hai Ibrahim”,

(104) “ Sesungguhnya kamu Telah membenarkan mimpi itu,  Sesungguhnya Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik”.

(105) “ Sesungguhnya Ini benar-benar suatu ujian yang nyata”.

(107). “ Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”.

(Qs. 37 : 102-107)

Dari sinilah kemudian disyari’atkannya qurban kepada kita setiap tangal 10-13 Dzulhijjah.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Ibadah dalam Islam bukanlah semata-mata rangkaian ritual yang hanya berdimensi spiritual. Ibadah qurban tidak semata-mata upacara penyembelihan, tetapi merupakan ibadah yang menempa diri seorang muslim sehingga menjadi seorang yang berakhlakul karimah.

Secara formmal-syar’iyyah, ibadah qurban yang kita laksanakan haruslah memenuhi beberapa persyaratan ;

-. Secara fisik, hewan qurban mesti sehat, sempurna jasadnya, dan cukup usianya.

-. Penyembelihan dilakukan dengan sebaik-baiknya agar hewan tidak tersiksa.

-. Fuqoro dan masakin menikmati daging sembelihan qurban tersebut.

-. Qurban dilaksanakan dengan Keikhlasan sebagai wujud taqwa kepada allah ;

`

“ Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah Telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”. (Qs. Al Hajj (22) : 37)

Disamping nilai spiritual tersebut, ibadah qurban  memiliki nilai-nilai sosial-kemanusiaan yang sangat luhur.

-. Qurban mengajarkan kepada kita untuk bersikap dermawan, tidak rakus dan bakhil.

-. Qurban juga mendidik kita untuk peduli dan mengasah sikap sosial. Seseorang tidak pantas kenyang dan bertaburan harta, sementara banyak sesama manusia yang sangat membutuhkan bantuan dan uluran tangan.

Persyaratan hewan qurban yang sangat ketat secara syar’iyyah sesungguhnya merupakan tuntunan agar kita memberikan yang terbaik untuk sesama manusia.

` Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya” . (Qs. Ali Imraan(3): 92)

-. Secara symbolis qurban mendidik kita untuk membunuh sifat-sifat kebinatangan. Diantaranya mau menang sendiri dan berbuat hanya dengan dibimbing nafsu. Manusia adalah makhluk yang paling utama. Tetapi jika tingkah lakunya dikuasai nafsu, maka jatuh derajatnya, bahkan lebih hina dibandingkan dengan binatang ;

“ Dan Sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai”. (Qs. Al A’raaf (7) : 179)

-. Qurban mengingatkan kita agar senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai, harkat dan martabat kemanusiaan. Digantinya Isma’il dengan seekor domba menyadarkan kita bahwa mengorbankan manusia adalah perbuatan yang sangat dilarang oleh Allah swt. Bahkan hewan qurban yang akan disembelihpun harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Karena itulah, maka perbuatan semena-mena, keji, dan kejam sesama manusia sangat dilarang oleh islam.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Saat ini kita hidup dalam situasi sosial yang sangat memprihatinkan. Sangat banyak saudara kita yang sangat membutuhkan uluran tangan, mereka menderita karena musibah dan bencana serta kemiskinan. Dan yang sangat menyedihkan adalah terkuburnya nilai-nilai kemanusiaan, perbuatan anarkis dan tindak kekerasan telah meluluh lantahkan nilai kemanusiaan. Tragedi kemanusiaan, terlalu banyak darah tertumpah karena angkara murka. Na’udzubillah..

Qurban adalah usaha kita untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan mematuhi semua perintahnya dan menjauhi semua larangannya. Hasilnya akan memunculkan dan meningkatkan sikap kepedulian sosial, sebagai wujud kesempurnaan ketundukan kita kepada allah swt.

Menyembelih qurban berarti membunuh sifat-sifat kebinatangan dengan menghormati dan menjunjung tinggi nilai-nilai, harkat dan martabat kemanusiaan.

Kehormatan dan harga diri seseorang tidak ditentukan oleh milyaran harta yang dimiliki, tidak pula gelar, pangkat dan jabatan yang disandangnya. Harkat dan martabat seseorang sangat ditentukan oleh penghormatan dan penghargaannya kepada sesama manusia, perilaku dan akhlaknya yang mulia.

Allah Swt tidak meminta kita untuk mengorbankan anak-anak kita, tetapi Allah meminta kita untuk mengorbankan apa yang sudah Allah berikan berupa harta kekayaan kita kepada sesama. Allah juga meminta kita untuk mengorbankan waktu yang sudah diberikan kepada kita untuk untuk beristiqomah menjalani perintahnya dan meninggalkan larangannya, waktu untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Mari kita jadikan Iedul Adha ini sebagai momentum peningkatan iman dan taqwa sebagai wujud ketundukkan dan kepasrahan kita kepada Allah Swt. Dengan menjunjung tinggi nilai martabat kemanusiaan.

Yaa Allah … tunjukilah kami jalan-Mu yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang kau murkai juga bukan mereka yang sesat.

Amiin yaa mujiiba sailiin …

 الحمد للهِ ربِّ العا لمين . اللهمّ صلِّ على نبيِّنا محمّدٍ  و على الِ محمّد .

Yaa Allah… yaa Rabbana… ya Syakuur… terimakasih atas semua anugerah nikmat-Mu, sehingga pagi ini kami masih dapat menghambakan diri terhadap-Mu.

Yaa Qowwiyu ya ‘Aziiz… berikan kekuatan kepada kami ya Rabb, agar kami senantiasa istiqomah dalam menjalani aturan dan syari’at-Mu,                  berikan kekuatan kepada kami ya Aziiz… agar kami senantiasa menegakkan kalimat-Mu di bumi ini… berikan kekuatan kepada kami, untuk menjadi wakil-Mu dalam melawan makar-makar jahat para musuh-Mu.

Ya Allah yaa Fattaah…. bukakan hati kami ya Rabb,, isi hati kami dengan semangat jihad membela syari’at-Mu.

Ya Allah yaa Ghoffaar… ampuni dosa dan kesalahan kami,, ampuni atas kelalaian kami yang belum istiqomah dalam membela syari’at-Mu,, ampuni kekhilafan kami dalam menjalani tugas penghambaan terhadap-Mu yaa Rabb… ampuni kami yaa ghaffaar … atas kelemahan iman kami, sehingga kami belum sungguh-sungguh dalam beramar ma’ruf nahi munkar.

Yaa Allah yaa Razzaaq … karuniakanlah kepada kami hati yang bersih dan suci, sehingga tidak ada kebencian dan permusuhan diantara kami saudara seiman… tidak merasa paling benar sehingga menjadikan kami takabbur… yaa Razzaaq … rahmati hati kami, sehingga terikat kasih sayang antara sesama kami.

اللهمّ اَعِزَّ الإسلامَ والمُسلِمينَ وانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّينَ

اللهمّ اغفرْ للمسلمين و المسلمات و المؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات .

اللهمّ أنت السّلام ومنك السّلام تباركت ياذا الجلا لِ والإكرامِ .

اللهمّ لا سَهْلَ إلاّ ما جَعَلْتَهُ سَهْلاً , وأنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إنْ شِئْتَ سَهْلاً , فَسَهِّلْ أُمُورَنا أُمُورَ الدُّنْيا والدّين  وأُمورَ جَمْعِيَّةِ المُسْلِمينَ فِي إنْدونيسيا وأُمورَ أُمَّةٍ محمّدٍ ص.م.

ربّنا ابنا فى الدُّنيا حسنلةً وفى الأخرة حسنةً وقنا عذا ب النّارِ .

سبحان ربّك ربّ العِزَّةِ عمّا يَصِفُونَ وسلامٌ على الْمُرسلين والحمْد للهِ ربِّ العالمين .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s