Idul Qurban: Kemurnian Tauhid dan Kesalehan Sosial

Standar

Oleh:  Ustadz Abdul Mutaqin , Ketua PCM Depok Barat

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحَّدَنَا بِعِيْدِهِ كَأُمَّةٍ وَاحِدَةٍ، مِنْ غَيْرِ الأُمَم، وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ. أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ، اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ. الَلَّهُمَّ صَلِّ وَاُسَلِّمُ عَلَى حَبِيْبِناَ المُصْطَفَى، الَّذِّي بَلَّغَ الرِّسَالَةْ، وَأَدَّى الأَمَانَةْ، وَنَصَحَ الأُمَّةْ، مُحَمَّدٍ  وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ، وَجاَهَدَ فِيْ اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ.

الله أكبر  الله أكبر.

اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْراً وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَإلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ، اللهُ اَكْبَرُ وِللهِ الْحَمْدُ.

اَمَّا بَعْدُ: عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ!

الله أكبر  الله أكبر وِللهِ الْحَمْدُ

Bersyukur kita kepada Allah atas kemurahan-Nya, yang memperkenankan kita berjama’ah di tanah lapang ini untuk syiar Islam, izzul Islam wal muslimin. Semoga Allah menetapkan iman dan Islam kita sampai akhir zaman. Kepada Rasulullah kita bersholawat, semoga Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada beliau, ahlul baitnya dan para pecinta sunnahnya.

Pagi ini kita bersimpuh di hadapan Allah, mengumandangkan takbir, tahmid, tahlil dan menegakkan solat sebagai komitmen kepada syari’at. Lalu berqurban, sebagai rasa syukur dan komitmen kepada tauhid serta ihsan kepada sesama. Kita serahkan semua yang telah kita tegakkan itu, biarlah Allah yang membalasnya karena Dialah Pemberi Balasan Yang terbaik.

Hadirin Sidang Ied yang berbahagia.

Idul Adha sangat dekat dengan berqurban, karena itu disebut pula Idul Qurban. Berqurban, di samping merupakan syari’at para Nabi, ia juga merupakan tradisi manusia sejak zaman dulu. Manusia telah mempraktekkannya sebagai warisan dari generasi ke generasi. Hanya saja, tradisi berqurban mereka bukan untuk taqarrub kepada Allah.

Tradisi qurban yang mereka lakukan umumnya untuk memohon keselamatan dari penyakit, lepas dari bencana, membuang sial atau agar terlepas dari berbagai kutukan. Untuk itu, dialirkanlah darah hewan atau bahkan manusia, lalu dipersembahkan kepada gunung, sungai, laut, tempat keramat, kuburan, pohon besar atau tempat-tempat yang diyakini sebagai wilayah kekuasaan para dewa dan penguasa alam gaib.

Qurban jahiliyah seperti ini, sering disebut sebagai sesaji, tumbal, ancak dan sejenisnya. Dalam pelaksanaannya menggunakan jasa perantara yang disebut dengan orang pintar, dukun, pawang atau pemangku adat yang mengambil tempat tidak lebih sebagai calo-calo alam ghaib.

Masyarakat Arab sebelum Islam pun melakukan tradisi berqurban seperti ini. Dengan persangkaan cerdiknya, mereka membagi-bagi daging persembahan itu separuh untuk Allah, separuhnya lagi untuk berhala-berhala mereka, dan separuhnya lagi untuk mereka nikmati bersama. Seolah-olah mereka memahami betul kebutuhan tuhan mereka atas daging yang dipersembahkan itu. Al-Qur’an kemudian mengkritik tradisi berqurban itu dalam firman-Nya :

وَجَعَلُواْ لِلّهِ مِمِّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُواْ هَذَا لِلّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَآئِنَا فَمَا كَانَ لِشُرَكَآئِهِمْ فَلاَ يَصِلُ إِلَى اللّهِ وَمَا كَانَ لِلّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَآئِهِمْ سَاء مَا يَحْكُمُونَ ﴿١٣٦﴾

“Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bahagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: “Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”, Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka” (QS. Al-An’am [6] : 136)

Karenanya menjadi sangat lucu, jika sampai hari ini masih ada orang Islam memendam kepala kerbau saat membangun jembatan, gedung atau proyek-proyek pembangunan, sebagai maksud meminta izin kepada penguasa tanah itu dengan harapan ia tidak meminta korban dalam proses pembangunannya.

Para pemendam kepala kerbau itu berkelit jika dikatakan bahwa mereka telah terjebak pada perbuatan syirik. Mereka membantah dan berdalih, bahwa yang tengah mereka kerjakan hanyalah sekedar melestarikan tradisi, tidak lebih. Mereka tidak bermaksud menyekutukan Allãh, hanya sekedar menghormati budaya leluhur. Tetapi, apabila ditanya melestarikan tradisi leluhur siapa? Islam atau Animisme Hindu? Mereka menjawab sekenanya, bahkan buru-buru mengalihkan masalah dengan mengatakan, “ah sudahlah, jangan diperpanjang.”

Hadirin, terhadap orang yang demikian itu, Allãh  menyindir mereka dalam firman-Nya :

ألَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُواْ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُواْ إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُواْ أَن يَكْفُرُواْ بِهِ … ﴿٦٠﴾

  “Tidakkah engkau melihat kepada orang-orang yang menyangka bahwa mereka telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan yang diturunkan sebelummu, (padahal) mereka ingin bertahkim (mengambil hukum) dari thaghut, padahal sungguh mereka telah diperintah untuk kafir kepadanya.”  (QS. An-Nisa [6]: 60)

الله أكبر  الله أكبر وِللهِ الْحَمْدُ

Hadirin Sidang Ied Rahimakumulah.

Setiap musibah yang menimpa manusia, bagi orang yang beriman dipahami sebagi kasih sayang Allah yang harus disikapi dengan sabar. Tidak ada hubungannya dengan tradisi memendam kepala kerbau atau jatah sesaji yang dilupakan. Keyakinan itu hanyalah bangunan yang didirikan di atas pondasi duga-duga dan puing-puing peradaban zaman batu yang hanya cocok untuk pikiran sederhana masyarakat primitif. Yaitu masyarakat yang selalu menerjemahkan setiap musibah dengan kurang syarat ini dan itu. Anak sakit-sakitan, katanya keberatan nama. Dagang rugi melulu, katanya letak warung salah menghadap. Pasangan pengantin yang tiba-tiba pingsan, katanya arwah ibunya sengaja datang menjenguk. Sekarang, cobalah bandingkan dengan firman Allah berikut :

وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدُيرٌ ﴿١٧﴾

 “Dan jika Allãh  menimpakan musibah atasmu maka tidak ada yang dapat menyingkapnya selain Ia, dan jika Ia memberikan kebaikan padamu maka Ia Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.”  (QS. Al-An’am [6]: 17).

Siapapun manusia tidak akan sanggup menyingkap secara pasti rahasia di balik musibah kecuali hanya Allah subhanahu wata’ala. Kita hanya diwajibkan berusaha, agar dapat terhindar dan selamat dari setiap musibah itu. Perkara kemudian mengalami atau terhindar darinya, semata-mata karena kuasa dan kasih sayang-Nya.

Jadi, tinggalkan kepercayaan model zaman batu itu. Jangan lagi jadi manusia kombinasi yang jenaka. Yakni, manusia yang hidup dengan fasilitas serba remote control, tetapi isi kepalanya masih primitif. Kemana-mana bawa handphone, tapi masih percaya kembang setaman tujuh rupa. Bekerja sudah dengan komputer, laptop atau iPad, tapi masih yakin dengan air bening tujuh sumur. Setiap hari naik turun Honda, Suzuki atau Yamaha, tapi, jimat cincin batu akik masih dipercaya mendatangkan keberuntungan.

Suatu hari Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam pernah melihat lelaki yang mengenakan jimat di tangannya, lalu beliau berkata:

اِنْزِعْهَا فَإِنَّهَا لاَ تَزِيْدُكَ إِلاَّ وَهْنًا فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا

 “Cabutlah (benda itu) karena ia hanya akan semakin membuatmu lemah/takut. Karena sesungguhnya jika engkau mati dalam keadaan memakainya maka engkau tidak akan beruntung selamanya.” (HR. Ahmad dengan sanad “la ba’sa bih”).

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam membangun ummatnya di atas kalimat Tauhid yang murni dan mulia.  Di atas landasan yang kokoh itulah beliau menegakkan da’wah, dari situlah beliau menegakkan generasi yang hanya meng-Esa-kan Allah dan membebaskan diri mereka dari cengkraman makhluq-makhluq lain yang dianggap sekutu bagi Allah. Dan ketika seorang Muwahhid mengucapkan dan melantunkan kalimat Tauhid itu, maka seharusnya ia meyakini dua hal yang menjadi tujuan hidupnya.

Pertama  menegakkan yang haq dan member-sihkan yang bathil. Sebab makna yang sesungguhnya dari kalimat la ilah Illallah adalah tidak ada yang berhak untuk disembah selain Allah. Sehingga segala sesuatu selain Allah adalah bathil dan tidak berhak mendapatkan hak-hak ilahiyyah (hak-hak untuk disembah).

Kedua  adalah untuk mengatur dan meluruskan perilaku manusia agar selalu dalam lingkaran Tauhid yang murni kepada Allah yang terpancar dari kalimat Tauhid. Agar semua tindak-tanduk manusia dilandasi oleh keyakinan bahwa Allah-lah satu-satunya Tuhan Yang Maha Kuasa.

Agar kalimat Tauhid itu dapat “berhasil guna” dalam mengatur perilaku manusia maka ada tujuh syarat yang harus dipenuhi, yaitu: pertama al-’ilm (mengetahui) maknanya yang benar, kedua al-yaqin (meyakini) kandungan-nya tanpa ada keraguan,  ketiga al-ikhlas (ikhlas) tanpa ternodai oleh syirik,  keempat ash-shidq (membenarkan) tanpa mendustakannya,  kelima al-qabul (menerimanya) dengan penuh kerelaan tanpa menolaknya,  keenam al-inqiyad, tunduk pada konsekwensi kalimat Tauhid dan semua itu harus dilandasi dengan sarat  ketujuh yaitu al-mahabbah (cinta) kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala.

Bila ketujuh syarat tersebut telah terpenuhi maka insya’ Allah seluruh ibadah dan amal kita akan selalu terhiasi dan diterangi oleh kemurnian Tauhid, sehingga semuanya dikerjakan hanya karena Allah, tidak ada lagi permintaan tolong selain kepada Allah, tidak ada lagi tawakkal kecuali kepada Allah, tidak ada lagi pengharapan dan rasa takut selain kepada Allah, tidak ada lagi kekuatan selain pertolongan Allah. Dari sinilah, seorang muwahhid akan merasakan dari lubuk hatinya yang terdalam bahwa segala sesuatu selain Allah adalah lemah dan tidak berdaya. Maka ia tidak lagi takut kebengisan dan kekuatan para makhluq, tidak lagi terpedaya oleh kilau duniawi, dan baginya tidak mungkin ada yang dapat manandingi Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apapun yang dikehendaki Allah Subhannahu wa Ta’ala

الله أكبر  الله أكبر وِللهِ الْحَمْدُ

Berqurban adalah syari’at agama Allãh, tanda ketaatan kepada tauhid, sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan bukti rasa syukur kepada Allãh atas nikmat-nikmat-Nya. Maka, mengalirkan darah hewan qurban termasuk ketaatan dengan satu bentuk taqarrub yang khusus:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ ﴿٣٤﴾

 “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allãh  terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allãh  kepada mereka, maka Ilahmu ialah Ilah Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allãh). (QS. Al-Hajj [22]:34)

Dengan demikian, berqurban berarti setia kepada Tauhid yang murni dan bersih yang merupakan misi utama para Rasul. Ia merupakan inti ajaran dari semua risalah samawiyah yang diturunkan Allãh Ta’ala. Ia adalah tiang penopang yang menegakkan bangunan Islam. Ia adalah syi’ar Islam yang terbesar sekaligus jati diri dari Islam itu sendiri. Inilah pesan utama Allãh  kepada Rasulnya yang diutus kepada ummat manusia.

ولَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ … ﴿٣٦﴾

  “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap ummat seorang rasul (untuk menyampaikan): Sembahlah (oleh kalian) akan Allãh  dan jauhilah thaghut.”  (QS. An-Nahl [16] : 36)

Bukalah kembali sirah Nabi, bagaimana Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam membersihkan Jazirah Arab dari kotoran-kotoran dan kekuasaan thoghut dan patung-patung sesembahan. Ingatlah bagaimana batu besar saat itu yang bernama Hubal yang dikelilingi 360 berhala dihancurkan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam dengan tangan beliau yang mulia pada saat fathu Makkah dengan penuh kemenangan, seraya mengulang-ulang firman Allãh :

وَقُلْ جَاء الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا ﴿٨١﴾

 “Dan Katakanlah (wahai Muhammad) telah datang Al-Haq dan hancurlah yang bathil. Sesungguhnya yang bathil itu pasti hancur.” (QS. Al-Isra’ [17] : 81)

Maka melalui mimbar ini, kami mengajak membersihkan hati kita dari debu-debu syirik. Buang jauh-jauh segala i’tiqad yang dapat memalingkan kita dari tauhid yang murni. Jangan gadaikan iman kita dengan kepercayaan jahiliyah yang menjadikan kita hina di hadapan Allah subhaanahu wa taala. Inilah pesan pertama, kita bersimpuh di sini.

الله أكبر الله أكبر وِللهِ الْحَمْدُ

Hadirin, Sidang hari raya qurban yang dirahmati Allah.

Masih ingatkah kita kisah dua orang putra Adam Qabil dan Habil yang saling berqurban di hadapan Allah? Salah seorang dari mereka diterima qurbannya, dan seorang lagi diabaikan Allah. Mengapa demikian? Mari kita telusuri dan menemukan jawaban atas pertanyaan penting ini.

Hadirin, yang pertama kali harus kita camkan, bahwa Allah sama sekali tidak membutuhkan sedikitpun dari kekayaan kita. Berapapun banyaknya harta yang sanggup dikorbankan seseorang, bukanlah satu-satunya ukuran untuk mendapat keridoan Allah. Dalam konteks berkurban, bukan seberapa ekor yang sanggup dipotong dan seberapa banyak darah yang dialirkan oleh seseorang untuk menunjukkan bahwa ia telah berkorban. Tetapi, seberapa tinggi loyalitas dan kecintaannya kepada Allah melebihi cintanya kepada hewan yang disembelih dan dialirkan darahnya itu.

Apalah artinya berlomba-lomba memotong hewan Qurban, apabila qurban pesembahannya itu tidak sanggup meruntuhkan egoisme dan kesombongan yang ada pada hati pelakunya. Inilah sesungguhnya pesan moral qurban, semakin sering seseorang berqurban, makin nampaklah kerendahan hatinya, makin santunlah ia, makin jernihlah setiap ucapan dan tindakannya.

Sungguh sayang orang yang berqurban, tapi kata-katanya masih saja pahit, kasar dan menusuk. Dadanya masih membusung, kepalanya masih saja tinggi dan angkuh. Berqurban seperti arena untuk menunjukkan seberapa besar hartanya di hadapan orang lain.  Inilah salah satu indikasi qurban yang sia-sia, seperti salah satu qurban putra nabiullah Adam alahissalam.

Apa sesungguhnya yang dikehendaki oleh Allah terhadap qurban kita?, Allah telah menyinggungnya dalam satu ayat :

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ ﴿٣٧﴾

 “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”.  (QS. Al-Hajj [22] : 37)

Kita harus bercermin pada qurban Nabiullah Ibrahim alahissalam dan putranya Ismail untuk mencopy nilai keikhlasan qurban yang paling hakiki. Kita memang tidak akan setara dengan para kekasih Allah itu, tetapi meneladaninya bukanlah hal yang mustahil.

Kita hanya diminta berqurban sebagian kecil dari harta yang kita miliki. Tidak seperti Nabi Ibrahim yang diminta menyembelih leher putranya Ismail, dan mereka berdua sanggup melaksanakannya, meskipun Allah kemudian menunjukkan kemahamurahan-Nya dengan mengganti leher Ismail dengan seekor gibas yang subur. Kita hanya diminta menyembelih egoisme dan keserakahan atas cinta yang berlebihan kepada kesenangan duniawi.

Cinta dunia boleh-boleh saja karena memang kita hidup di dalamnya. Tetapi ingat, masih ada kehidupan akhirat, puncak segala kenikmatan abadi atau kepedihan dengan azab yang pedih. Sungguh pesan moral yang sangat agung dan alangkah beruntungnya, jika kita selalu dapat mengadopsi jiwa Ibrahim dan Ismail setiap kali syiar Idul Qurban kita kumandangkan. Hadirin, ini poin kedua kita hadir di sini.

الله أكبر  الله أكبر وِللهِ الْحَمْدُ

Hadirin, Sidang hari raya qurban yang budiman.

Orang yang ikhlas berqurban, hakikatnya tidak sedang mengukir kesalehan pribadi di hadapan Allah saja, tetapi ia tengah membangun kesalehan sosial yang dirasakan manisnya oleh kaum dhuafa. Orang muslim yang kaya tidak menikmati hartanya sendirian, tetapi ia rela berbagi kepada orang miskin di sekitarnya. Islam hadir di tengah kita untuk mempersempit jurang antara miskin dan kaya, tidak untuk menempatkan si kaya pada satu kapling dan si miskin di kapling yang lain.

Ada kisah pada masa Rasulullah yang mungkin dapat memberikan illustrasi jelas pada kesempatan mulia ini. Satu saat, Rasulullah saw berkumpul bersama para sahabatnya yang kebanyakan orang miskin. Sekedar menyebut beberapa nama sahabat yang hampir semuanya bekas budak, yaitu Salman al-Farisi, Ammar bin Yasir, Bilal, dan Suhay Khabab bin Al-Arat. Pakaian mereka jubah lusuh terbuat dari bulu yang kasar. Tetapi mereka adalah sahabat senior Nabi, para perintis perjuangan Islam permulaan. Beberapa saat kemudian, serombongan bangsawan yang baru masuk Islam datang ke majelis Nabi. Ketika melihat orang-orang di sekitar Nabi, mereka mencibir dan menunjukkan kebenciannya. Mereka berkata kepada Nabi:

“Kami mengusulkan kepada Anda agar Anda menyediakan majelis khusus bagi kami. Orang-orang Arab akan mengenal kemuliaan kita. Para utusan dari berbagai kabilah Arab akan datang menemuimu. Kami malu kalau mereka melihat kami duduk dengan budak-budak ini. Apabila kami datang menemui Anda, jauhkanlah mereka dari kami. Apabila urusan kami sudah selesai, bolehlah Anda duduk bersama mereka sesuka Anda.”

Salah seorang dari bangsawan itu; Uyaynah bin Hishin menukas, “Bau Salman al-Farisi mengangguku (Ia menyindir bau jubah bulu yang dipakai sahabat nabi yang miskin). Buatlah majelis khusus bagi kami sehingga kami tidak berkumpul bersama mereka. Buat juga majelis bagi mereka sehingga mereka tidak berkumpul bersama kami.”

Peristiwa ini  disaksikan Allah dan para malaikat, maka tiba-tiba turunlah malaikat Jibril menyampaikan surat Al-An’am [6] ayat 52 .

وَلاَ تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِم مِّن شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِم مِّن شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ ﴿٥٢﴾

“Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka. Begitu pula mereka tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim.”

Nabi saw segera menyuruh kaum fuqara duduk lebih dekat lagi sehingga lutut-lutut mereka merapat dengan lutut Rasulullah saw. “Salam ‘Alaikum,” kata Nabi dengan keras, seakan-akan memberikan jawaban kepada usul para pembesar Quraisy. Setelah itu, turun lagi surat Al-Kahfi [18] ayat 28,

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا ﴿٢٨﴾

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”

Sejak itu, apabila kaum fuqara ini berkumpul bersama Nabi, beliau tidak meninggalkan tempat sebelum orang-orang miskin itu pergi. Apabila beliau masuk ke majelis, beliau memilih duduk dalam kelompok mereka.  Seringkali beliau berkata :

“Alhamdulillah, terpuji Allah yang menjadikan di antara umatku kelompok yang aku diperintahkan bersabar bersama mereka. Bersama kalianlah hidup dan matiku. Gembirakanlah kaum fuqara muslim dengan cahaya paripurna pada hari kiamat. Mereka mendahului masuk surga setengah hari sebelum orang-orang kaya, yang ukuran setengah hari di sana, adalah 500 tahun dunia. Mereka bersenang-senang di surga sementara orang-orang kaya masih sibuk tengah diperiksa amalnya.”

Hadirin jika kita ingin menjadi orang yang memiliki kesalehan individu dan kesalehan sosial secara bersamaan, maka saat ini kita sedang dinanti. Allah sedang memanggil kita untuk membuktikan bahwa diri kita bukan saja cinta kepada Allah, tetapi juga memiliki empati dan simpati pada kaum dhuafa, cinta kepada orang-orang miskin dan mengasihinya. Raba hati kita masing-masing, apakah kita lebih memilih perilaku para salafussaalih, atau lebih menyerupai pembesar quraisy seperti kisah di atas. Inilah pesan terakhir dari Idul Qurban yang saya sampaikan.  GSemoga bermanfaat.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ

Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ, وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ ,وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا, وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا, وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا, وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَا ,وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا, وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selamakami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَشْكُوْرً وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرًا

Ya Allah, jadikanlah haji mereka haji yang mabrur, sa’i yang disyukuri, dosa yang diampuni dan perniagaan yang tidak merugi

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s